Tuntutan Pendidikan Tinggi di Indonesia, Kasus Magang di Jerman dan Dampaknya

tuntutan pendidikan tinggi di Indonesia

Kasus penyimpangan kerja paruh waktu (ferienjob) yang dialami oleh 1.047 mahasiswa Indonesia di Jerman telah menimbulkan perhatian publik. Hal ini menunjukkan adanya tuntutan pendidikan tinggi di Indonesia yang turut berperan dalam mendorong para calon sarjana untuk siap menghadapi dunia kerja.

Direktur Migrant Care, Wahyu Susilo, mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang memicu para mahasiswa tergiur dan terjebak tawaran kerja paruh waktu di luar negeri adalah adanya tuntutan sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, sistem pendidikan tinggi di Indonesia lebih fokus pada mengarahkan para mahasiswa untuk siap menghadapi dunia kerja daripada mendorong mereka untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Tuntutan Sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia

Menurut Wahyu, arahan dari dunia pendidikan, terutama di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), seringkali mengulangi konsep “link and match”. Konsep ini mengarahkan para mahasiswa untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan mereka setelah lulus. Hal ini menyebabkan para mahasiswa lebih fokus pada mencari pekerjaan daripada mengembangkan ilmu pengetahuan secara mendalam.

Wahyu juga menyoroti bahwa sistem pendidikan tinggi di Indonesia cenderung mengabaikan pengembangan keterampilan dan pengetahuan yang lebih luas. Para mahasiswa seringkali hanya diajarkan materi yang terkait langsung dengan pekerjaan di bidang mereka, tanpa diberikan kesempatan untuk menjelajahi bidang-bidang lain yang mungkin menarik minat mereka.

Dampak Terhadap Mahasiswa

Tuntutan sistem pendidikan tinggi yang lebih fokus pada persiapan kerja daripada pengembangan ilmu pengetahuan berdampak pada para mahasiswa. Mereka cenderung tergiur dengan tawaran kerja paruh waktu di luar negeri yang menjanjikan penghasilan yang lebih tinggi.

Para mahasiswa yang memilih untuk bekerja paruh waktu di luar negeri seringkali menghadapi berbagai tantangan, termasuk masalah hukum, eksploitasi, dan penyalahgunaan. Kasus penyimpangan kerja paruh waktu yang dialami oleh 1.047 mahasiswa Indonesia di Jerman merupakan contoh nyata dampak negatif dari tuntutan sistem pendidikan tinggi di Indonesia.

Wahyu menegaskan bahwa penting bagi sistem pendidikan tinggi di Indonesia untuk mengubah paradigma pendidikan yang hanya fokus pada persiapan kerja. Para mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara lebih luas dan mendalam, sehingga mereka dapat memiliki pemahaman yang kokoh dan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *